Sabtu, 14 September 2013

Surga tidak kekal

Ternyata Akhirat ‘Masih’
Tidak Kekal (5): SURGA &
NERAKA SUDAH KITA
RASAKAN
Posted by admin
Perbandingan antara alam dunia dan
alam akhirat itu, ibarat ujung jari
dicelupkan ke samudera. Setetes air
yang ada di ujung jari itulah dunia,
dan samudera itulah akhiratnya.
Demikianlah suatu ketika Rasulullah
dawuh kepada para sahabat,
sebagaimana diceritakan dalam HR
Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan
Ahmad.
Saya sempat tercengang ketika
merenungi dawuh Nabi itu. Betapa
hebatnya pengetahuan dan
pemahaman beliau tentang alam
akhirat. Saya membayangkan,
agaknya, ini karena beliau sudah
menyaksikan sendiri besarnya alam
berdimensi tinggi yang kita kenal
sebagai alam Akhirat itu. Bukankah
beliau memang sudah sampai di
‘puncak langit’ bernama Sidratul
Muntaha, dimana alam akhirat
terlihat? Bahkan, beliau digambarkan
begitu terpesona menyaksikan alam
berdimensi sepuluh yang meliputi
alam dunia. Sehingga, muncullah
kesimpulan bahwa alam rendah
bernama Dunia ini ternyata hanya
seperti setetes air di samudera nan
luas ketika dibandingkan dengan alam
Akhirat.
Saya terkagum-kagum kepada beliau
yang dengan smart memberikan
analogi simple tapi mendalam, tentang
dunia dan akhirat. Itulah salah satu
sebab, kenapa saya ngefans berat
sama beliau, dan memutuskan untuk
tetap menjadi umatnya sampai hari
kiamat..
Allahumma shalli wasallim wabarik
’ala sayyidina wamaulana wahabibina
Muhammad Rasulillah. Padahal, dari
sisi pengetahuan modern, ungkapan
beliau itu sangat bermakna dan
membutuhkan penjelasan yang rumit,
serta menjadi kontroversi hingga kini..
Ada dua hal yang terkandung di dalam
analogi itu. Yang pertama, dari sisi
ukuran alam semesta. Dan yang
kedua, dari sisi komposisinya.
Menurut kesaksian beliau, alam dunia
ini sangat kecil bila dibandingkan
dengan alam akhirat. Setetes air
dibandingkan ‘tak berhingga tetesan’
air yang membentuk samudera. Dan,
secara bersamaan, analogi ini juga
bermakna bahwa alam dunia ini
sebenarnya merupakan ‘bagian tak
terpisahkan’ dari Akhirat. Mirip
dengan setetes air yang juga menjadi
bagian tak terpisahkan dari samudera.
Dalam pemahaman teori dimensi,
memang demikianlah adanya. Alam
dunia yang berdimensi tiga ini adalah
bagian dari alam akhirat yang
berdimensi sepuluh. Tidak
terpisahkan. Sudah sering saya
jelaskan, bahwa jika ada deretan garis
yang berdimensi satu dalam jumlah
tak berhingga dijejer berimpitan,
garis-garis itu akan membentuk
luasan berdimensi dua. Dan jika
lembaran-lembaran berdimensi dua
itu ditumpuk sebanyak-banyaknya
sampai tak berhingga, ia akan
membentuk balok yang berdimensi
tiga.
Dengan analogi di atas, saya cuma
ingin menceritakan, bahwa ‘ruangan’
berdimensi dua sebenarnya terbentuk
dari ‘ruangan’ berdimensi satu dalam
jumlah tak berhingga. Sedangkan
‘ruangan’ berdimensi tiga terbentuk
dari ‘ruangan’ berdimensi dua dalam
jumlah tak berhingga. Atau, secara
umum bisa disimpulkan, bahwa
‘ruangan’ berdimensi tinggi selalu
tersusun dari ruangan berdimensi
lebih rendah dalam jumlah tak
berhingga.
Sehingga, jika Anda menerima konsep
itu – detilnya dijelaskan oleh M-
Theory – kita bisa memahami
struktur alam semesta yang
berdimensi sepuluh itu dengan cara
yang sama. Bahwa alam Akhirat
sebagai langit ketujuh ternyata
tersusun dari langit ke enam dalam
jumlah tak berhingga. Sedangkan
langit keenamnya tersusun dari langit
kelima dalam jumlah tak berhingga
pula. Selanjutnya, langit kelima
tersusun dari langit keempat, tersusun
dari langit ketiga, kedua, kesatu,
masing-masing dalam jumlah tak
berhingga.
Jika disimpulkan secara sederhana,
besarnya alam akhirat itu adalah ‘tak
berhingga pangkat tujuh’ dibandingkan
dengan alam dunia…
Tentu saja, tidak ada istilah ‘tak
berhingga pangkat tujuh’ di dalam ilmu
matematika. Karena, istilah tak
berhingga itu sudah tidak bisa dihitung
lagi. Masa ada istilah ‘tak terhitung
pangkat tujuh’? Hasilnya pasti ‘tak
terhitung’ juga, hhehe. Ini sekedar
cara saya saja untuk menggambarkan
betapa luasnya akhirat dibandingkan
dunia…
Bukan hanya fisiknya, melainkan juga
kualitasnya. Kualitas kehidupan dunia
ini jika dibandingkan dengan
kehidupan akhirat hanyalah ‘seper-tak
berhingga pangkat tujuh’..
. Itulah kenapa Al Qur’an sering
menyebut kehidupan dunia ini hanya
sekedar ‘main-main’, tipuan, dan
fatamorgana belaka. Kehidupan yang
sesungguhnya adalah kehidupan
Akhirat. Yakni, saat kesadaran kita
bisa mengakses alam berdimensi
lebih tinggi itu secara holistik.
Maka, kalau kita kaitkan antara alam
dunia & alam akhirat dengan
keberadaan surga & neraka, kita
memperoleh kesimpulan yang
menarik. Bahwa, karena surga dan
neraka itu berada di alam akhirat, dan
dunia ini adalah bagian dari alam
akhirat, maka kehidupan kita sekarang
ini sebenarnya sudah diliputi oleh
surga dan neraka. Saat kita merasa
bahagia, itu sebenarnya adalah ‘rasa
surga’ tapi dalam skala dunia. Dan
ketika kita merasa menderita, itupun
adalah ‘rasa neraka’, dalam skala
dunia.
Berapa besar skala perbandingannya?
Kita cuma kecipratan rasa surga &
neraka dalam kadar ‘seper-tak
berhingga pangkat tujuh’ saja..! Dalam
ibarat Nabi, seluruh rasa bahagia dan
derita di dunia ini hanya seperti
setetes air di dalam samudera jika
dibandingkan dengan rasa bahagia dan
derita yang sesungguhnya di alam
akhirat. Shadaqta ya Rasulullah …
Lantas, bagaimana menjelaskan
penglihatan Rasululah saat beliau
berada di Sidratul Muntaha? Kenapa
beliau bisa melihat surga dan neraka
yang sudah ada penghuninya? Apakah
itu kejadian sekarang ataukah
kejadian masa depan?
Meskipun secara ruangan, alam
akhirat sudah ada sekarang,
sebenarnya manusia baru akan
merasakannnya kelak sesudah kiamat
Bumi, yakni setelah dibangkitkan
kembali. Itulah saat dimensi alam
akhirat dibukakan oleh-Nya, sehingga
manusia bisa mengakses alam
berdimensi lebih tinggi secara lebih
menyeluruh. Allah menyebutnya
sebagai ‘terbukanya hijab’ dimensi,
dimana penglihatan dan pendengaran
kita menjadi jauh lebih tajam daripada
sekarang.
QS. Qaaf (50): 22
Sesungguhnya kamu berada dalam
keadaan lalai dari (hal) ini, maka
Kami singkapkan darimu tabir (yang
menutupi) matamu, sehingga
penglihatanmu pada hari itu amatlah
tajam.
QS. Maryam (19): 38
Alangkah terangnya pendengaran
mereka dan alangkah tajamnya
penglihatan mereka pada hari mereka
datang kepada Kami. Tetapi orang-
orang yang zalim pada hari ini (di
dunia) berada dalam kesesatan yang
nyata (karena keterbatasan
penglihatan dan pendengarannya).
Apa yang dilihat oleh Rasulullah saat
Mi’raj itu adalah kejadian masa
depan. Bukan kejadian sekarang. Tapi
kenapa Rasulullah sudah bisa melihat
semua itu? Ya, karena Rasulullah
berada di dimensi tertinggi alam
semesta. Bukankah dalam
pemahaman Fisika Modern, ruangan
alam semesta ini melengkung? Dan
karena itu pula, dimensi waktu juga
ikut melengkung? Sebab, dimensi
ruang-waktu itu memang tidak
terpisahkan eksistensinya.
Ibarat Anda sedang berada di ruang
dimensi tiga, maka Anda akan bisa
menggambar ‘kurva waktu’ lengkung
di papan tulis yang berdimensi dua.
Sehingga, dalam waktu yang
bersamaan, Anda akan bisa melihat
urutan waktu ‘dulu-sekarang-nanti’
secara bersamaan dalam gambar itu.
Atau, jika dimensi waktu diibaratkan
garis melengkung di permukaan
sebuah bola kaca yang berdimensi
dua, maka kita bakal bisa melihat
masa depan kurva itu lewat ruangan
dimensi tiga, tembus lewat kedalaman
bola.
Ringkas kata, siapa saja berada di
dimensi tinggi, ia akan bisa melihat
masa depan dari sebuah peristiwa
yang tidak kelihatan di dimensi
rendah. Apalagi, saat itu Rasulullah
berada di Sidratul Muntaha yang
memiliki dimensi paling tinggi di alam
semesta. Itulah sebabnya beliau
terpesona disana, karena tidak pernah
menduga akan melihat pemandangan
sedahsyat itu.
Dengan demikian, pemahaman kita
sudah bertambah lagi. Bahwa alam
akhirat itu secara ruangan sudah
meliputi kita, tetapi secara urutan
waktu baru akan kita rasakan kelak
sesudah hari kiamat. Yakni, ketika
Allah membukakan langit-langit
berdimensi tinggi, sehingga segala
rahasia yang tadinya tidak kelihatan,
kelak menjadi tampak semua. Dan,
surga serta neraka yang selama di
dunia tak begitu terasa, saat itu pun
menjadi begitu dekatnya dengan kita
dan bisa kita rasakan sepenuhnya..!
QS. Ath Thaariq (86): 9-10
Pada hari ditampakkan segala
rahasia, maka sekali-kali tidak ada
bagi manusia suatu kekuatan pun dan
tidak (pula ada) seorang penolong .
QS. Asy Syu’araa’ (26): 90-91
Dan (di hari itu) didekatkanlah surga
kepada orang-orang yang bertakwa,
dan diperlihatkan dengan jelas neraka
Jahim kepada orang-orang yang
sesat.
QS. Al Furqaan (25): 22
Pada hari mereka melihat malaikat
(makhluk berdimensi tinggi), di hari itu
tidak ada kabar gembira bagi orang-
orang yang berdosa, mereka berkata:
‘Semoga Tuhan menghindarkan kami
dari bahaya’.
Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar