Minggu, 08 September 2013

Kiyamat

TANDA-TANDANYA HARI
QIAMAT
1 Vote
Bab 13
KETERANGAN TENTANG
TANDA-TANDANYA HARI QIAMAT
Di ayat Al-Mukminin : 99 – 100, ada
kata Bardzahchun (aling-jawa)
benbatas, yaitu yang disebut Kubur,
jadi orang pintar dan gagah itu tidak
bisa kembali lagi, karena sudah
hancur dan busuk tidak bisa dipakai
lagi karena sudah ditinggalkan (mati),
akan tetapi yang menempati alam
kubur hanya keinginan-keinginan di
waktu hidup didunia, permintaannya
bisa terjadi lagi, itu keluhan si Roh
tadi.
Roh yang menempati alam kubur itu
tidak akan terjadi lagi seperti tubuh
yang kita pakai lagi, seperti halnya
pakaian yang tidak koyak dibuang,
harus ganti yang baru lagi dan
seterusnya. Dan umpama Roh tadi
bisa lahir lagi memakai jasmani,
diterangkan di sifat 20 :
1. Roh (jiwa manusia) memakai sifat
20 yang ke 5, yaitu sifat Allah
Qiyamuh Binafsihi; berdiri sendiri,
bangun sendiri tanpa ada sebab apa-
apa (Qiamat), umpama Roh tidak
memakai jasmani geraknya berdiri
sendiri, bisa melewati alam kosong
(suwung-jawa), tidak ada yang
menghalang-halangi, Roh pergi tanpa
keinginan yang kotor, umpama air
kotoran itu bercampur apa, kotoran
Roh tadi sudah membekas (tabet-
jawa) dari keinginan nafsu serakah
(tamak) dan sebagainya yang
keinginannya tidak seberapa (pasif),
ada yang hanya getaran (aktif). Yang
aktif itu bebannya berat, mudah
tenggelam dalam air, dan yang pasif
tadi tidak tenggelam. Karena dua-
duanya sama-sama menanggung
beban, itu sebabnya bisa lahir lagi
karena kodratnya Allah sendiri. Dan
dari kata-kata sendiri (Qun Fayakun)
apa yang dikehendaki, umpama ingin
menghadap kepada-Nya (kehadapan
Allah).
2. Ukurannya hanya 2 :
a. Siapa saja yang Rohnya bisa
menyatu dengan sifat Layu Kayafu (lan
kena kinaya-jawa) sama dengan
menghadap Allah.
b. Tidak akan menghadap atau di
Qiamatkan lagi, walaupun didunia
kelihatannya Alim dan Takwa.
Menurut keterangan diatas, Roh itu
hanya ada 2 jenis; Baik dan Kotor.
Suci ukuran dunia; tidak pernah
menjalani perbuatan yang tidak baik,
tetapi suci ukuran Allah; tidak pilih
kasih tetapi sama saja (sama)
mengerjakan kata-kata di ayat Qur’an
Surat Al-Arraf : 29 diatas, artinya bisa
merasakan seperti bayi yang baru
lahir, tetapi ukuran dunia sebaliknya;
suci bagi Allah, kotor itu semua yang
merasakan yang mengalami yaitu
yang menanggung sengsara, dan
sengsarnya (menanggung Roh
menyorong munndur majunya
kemauan) tidak diketahui yang lain
kecuali Allah Yang Maha Tahu.
Tentang itu tadi batin bisa
mengingkari, bukti dan rasanya
menanggung itu siapa saja yang
menyesali barang yang telah hilang
walaupun sedikit pikirannya teringat,
marah dan hidupnya tidak tentram.
Orang mati keluarnya nyawa melewati
rasa, ingat asal Rohnya masih merasa
memiliki apa-apa, walupun sudah
ditinggal Rohnya sudah tidak merasa
apa-apa, orang yang sudah
menyingkirkan keinginan Sekaralnya
(sekaratul maut) tidak melalui rasa
ingat, sama dengan menyatunya
hamba dan Allah (Layu Kayafu).
Karena jalannya Qiamat sudah
diterangkan, oleh sebab itu tanda hari
Qiamat bila diselaraskan dengan
tanda Lahir ternyata cocok. Di
keterangan Qiyamuh Binafsihi; berdiri
dengan sendiri, besar sendiri,
bergerak sendiri, buang hajat sendiri,
buang air seni sendiri, hidup sendiri
artinya memiliki sifat Qiyamuh
Binafsihi yaitu sifatnya Allah.
Air mani yang dikeluarkan dari Pria
diterima oleh mani wanita, lalu
menjadi gumpalan darah didalam
Rahim Ibu menjadi bentuk seperti bayi
masih bentuk titik lubang kecil, lubang
lama kelamaan membentuk lubang-
lubang alat untuk bekerjanya Panca
Indra, lama-lama membentuk bayi
yang sempurna laki-laki atau
perempuan, sebab adanya sifat 20
Qiyamuh Binafsihi.
Tiap-tiap yang hidup itu bisa besar
sendiri, tumbuh sendiri (Qiyamuh
Binafsihi), sifat membesarkan
(mengembangkan) dan membentuk
dan lain-lain. Karena perut wanita
kecil jadi tidak tahan menahan benda
yang membesar, lalu lair sendiri
karena sifat Qiyamuh Binafsihi. Jadi
lahir itu perjalanan yang tetap
(Qiyamat), jadi bayi lahir 9 bulan 10
hari itu ketentuan kodrat (batas
melahirkan) dan kalau ada bayi lahir
sebelum waktunya itu kesalahan yang
mengandung (kurang perawatan) atau
kecelakaan.
Firman Allah : Qur’an surat Al-
Zalzalah : 1 – 8 ;
1. Apabila bumi digoncangkan dengan
goncangan (yang dahsyat),
2. dan bumi telah mengeluarkan
beban-beban berat (yang
dikandung)nya,
3. dan manusia bertanya: “Mengapa
bumi (menjadi begini)?”,
4. pada hari itu bumi menceritakan
beritanya,
5. karena sesungguhnya Tuhanmu
telah memerintahkan (yang
sedemikian itu) kepadanya.
6. Pada hari itu manusia ke luar dari
kuburnya dalam keadaan bermacam-
macam, supaya diperlihatkan kepada
mereka (balasan) amal perbuatan
mereka,
7. Barangsiapa yang mengerjakan
kebaikan seberat dzarrahpun (debu yg
halus), niscaya dia akan melihat
(balasan)nya.
8. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan sebesar dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya
pula.
Kata Guncang atau bergerak kuat itu
terjadi seperti karena gempa, gunung
meletus, tanah longsor. Umpama
goyangnya badan jasmani, sebenarnya
mengalami kejadian tadi seperti
gemetar takut jumpa dengan harimau,
gemetar hampir kejatuhan kelapa dan
lain-lain, seperti itu sebenarnya bukan
hancurnya tubuh (jasmani), tetapi
tetap keadaan hidup dan bisa
merasakan apa-apa,
Qur’an surat Al-Qaari’ah : 1 – 11 ;
1. Hari Qiamat,
2. apakah hari Qiamat itu?
3. Tahukah kamu apakah hari Qiamat
itu?
4. Pada hari itu manusia adalah
seperti anai-anai yang bertebaran,
5. dan gunung-gunung adalah seperti
bulu yang dihambur-hamburkan’
6. Dan adapun orang-orang yang berat
timbangan (kebaikan)nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan
yang memuaskan’
8. Dan adapun orang-orang yang
ringan timbangan (kebaikan)nya,
9. maka tempat kembalinya adalah
neraka Hawiyah’
10. Tahukah kamu apakah neraka
Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
Surat diatas bila kita teliti secara
jernih, intisarinya Qiamat itu bukan
kerusakan tetapi tentang kejadian-
kejadian yang sangat mengherankan.
Menerangkan rahasia-rahasia ayat
yang diatas perlu contonh-contoh
yang bersangkutan ilmu bumi dan
sejarah;
1. Pada zaman dahulu manusia hidup
menurut Kodrat, kebisaaan melahirkan
kandungan sangat berbahaya menurut
ukuran zaman dahulu karena sudah
ada adat tradisi, jadi bagi orang zaman
sekarang dianggap bisaa, contoh yang
diatas kalau di qiyas (teliti) dengan
keadaan jasmani, persis makna ayat
suci yang diatas ada kata-kata
kejadian yang mengerikan, maksudnya
bagi perasaan bergetar karena takut
dan badan merasa pegal-pegal dan
gemetar yang dirasakan oleh wanita
yang mengalami melahirkan pertama.
2. Bila ada wanita yang hamil pertama
kali perutnya pasti bulat dan runcing
sperti gunung, lalu sewaktu
melahirkan mereka merasa ketakutan
(ngeri-jawa) dan badannya pegal-
pegal dan lain-lain. Seperti apa
rasanya wanita yang akan melahirkan,
ada yang mengatakan perang Sabil
(perang suci karena Allah) jika tidak
selamat bisa saja mati, karena sudah
waktu perutnya mengecil karena isi
perutnya yang belum diketahui sudah
keluar (lahir) dan perutnya yang
menonjol seperti gunung mengabarkan
kepada yang melahirkan, tentang apa
yang dilahirkan tadi. Kalau itu
dikatakan gunung meletus mirip
dengan ayat-ayat Al-Zalzalah tadi
tentang gunung meletus, bumi
bergoyong-goyang hebat. Kalau itu
disampaikan orang semestinya tidak
cocok dengan ayat Al-Qur’an seperti
diatas, karena ayat mengatakan hanya
gunung, karena kalau berhubungan
dengan perasaan gunung itu sama
dengan menempati jasadnya manusia
sendiri. Surat Al-Zalzalah : 2 ;
mengatakan : mengeluarkan semua
isinya, itu tinggal menebak saja isi
kandungan tadi. Pada ayat : 6; ada
kata supaya mengetahui usahanya
sendiri, sudah jelas pasti lahir lagi
dari keinginan nafsu, karena nafsu
menyebabkan mengutif keinginan yang
terdahulu (hidupnya dahulu). Artinya
ayat : 7 – 8 ; keterangannya lebih
jelas dan manusia tetap berjalan dari
melanjutkan keinginan kehidupan
dahulu, sudah jelas sebabnya lahir
lagi untuk mengutip hasil yang
membekas, jadi bekas yang tidak baik
membayar yang tidak baik dan baik
membayar baik, dan menurut
perasaan buruk dan baik orang lain
tidak mengetahui, hanya pikiran
sendiri.
Buktinya bagaimana ayat suci diatas
tadi hidup shari-hari, itu terdapat pada
11 ayat, Surat Al-Qaari’ah : 1,2,3,
artinya pada sewaktu hari melahirkan
bayi (tanda Qiamat) yang pertama di
alami oleh wanita dan setiap makhluk
perempuan, para makhluk yang
menjadi wadah umat. Karena itu ayat :
4 mengatakan para wanita (istri) hari
itu merasa takut, was-was, sangsi-
sangsinya itu sebenarnya tidak
sendiri, karena pada hari itu wanita
diseluruh dunia ada yang mengalami
melahirkan atau terkena guncang-
guncangan (Qiamat). Ayat : 5, artinya
disitu ada kata gunung hancur seperti
Dzarah (debu yang halus), ayat itu
sebenarnya ditujukan kepada
perasaaan yang merasakan akibat
tadi. Umpama kepala terbentur benda
keras, sewaktu kepala merasa pusing
dan sakit mengakibatkan mata
berkunanng-kunang dan berputar-
putar seperti debu yang halus
berterbangan, sperti itu sebenarnya
tidak terjadi benar-benaran, hanya
umpama. Pusing para wanita yang
baru hamil 3 bulan (waktu melahirkan/
keguguran). Ayat : 6, di tujukan
kepada yang baru mengalami rumah
tangga atau sicalon orang tadi (bayi),
jiwanya membawa bekas keinginan
yang dulu baik atau buruk. Apa
sebabnya kalau bayi lahir tadi
membawa bekas hidupnya yang dulu,
tingkah laku tidak sama dengan yang
membawa dahulu, karena sudah lain
tempatnya (jasmani).
Jiwa (roh) itu tidak memilih jasmani
yang mana, sebab sudah kehendak
Allah, dan jasmani itu barang baru
yang bisa rusak dan busuk, karena
yang bertanggung jawab itu bukan
jasmani melainkan Rohani (rohnya),
jadi bukan pekerjaan sepak atau
terjang manusia yang dahulu. Yang
memakai jasmani lagi, tetapi
perjalanan Roh yang dahulu untuk
membayar bekas-bekas keinginan
(Tabet-tabet-jawa) keinginan.
Ayat : 7, menolak salah pendapat yang
mengatakan dunia itu hancur, di ayat
itu terdapat kata hidup, yang
maksudnya hidup yang memakai
jasmani yang lengkap dan hidup., itu
bukan hancurnya keadaan. Jadi benar
dengan keterangan lahir di dunia
dengan keadaan selamat. Jadi kalau
ada bayi lahir (Qiamat) mati (tidak ada
tanda-tanda hidup), itu sudah lain
urusan lagi, artinya tidak di bicarakan
di kitab suci Al-Qur’an, dan lainnya
yang dibicarakan dan yang ditakut-
takuti melalui siksa dan lain-lain, jadi
lahir tidak hidup itu bukan benda apa-
apa, sama dengan barang yang
tergeletak ditanah.
Keterangannya begini; bayi lahir mati
itu seperti mainan anak-anak, mobil-
mobilan, boneka dan lain-lain. Beda
bayi lahir hidup. Lalu sekian menit
mati itu Rohnya yang memakai
jasmani baru tadi rohnya keluar,
gentayangan di alam kubur,
mengalami seperti sebelum memakai
badan jasmani.
Dan ayat : 2, sebaliknya dari ayat : 6,
ayat : 9, mengatakan tempatnya
dineraka, itu kebisaaan dari dahulu,
neraka itu dianggap tempat yang ada
apinya yang menyala-nyala,
mengerikan dan lain-lain. Lalu di
karang atau ditafsirkan disana
menakut-nakuti. Mencari nama
neraka tidak berbeda dengan mencari
kata-kata Qiamat, kubur atau Barzah.
Di cari keterangannya yang luas
sehubungan dengan pendapat Hadist
Nabi, Wali dan Mukmin haz.
a. Kata-kata di Al-Qur’an surat
Maryam : 95 :
“Dan tiap-tiap mereka akan datang
kepada Allah pada hari Qiamat dengan
sendiri-sendiri.”
Surat Al-Kahfi : 48 ;
“Dan mereka akan dibawa ke hadapan
Tuhanmu dengan berbaris.
Sesungguhnya kamu datang kepada
Kami, sebagaimana Kami menciptakan
kamu pada kali yang pertama (bayi
lahir); bahkan kamu mengatakan
bahwa Kami sekali-kali tidak akan
menetapkan bagi kamu waktu[hari
pembalasan] perjanjian”
b. Kata-kata di Injil surat Korinta 16
Pag 475 Yes 25, 8 ayat 51, 52, 53 dan
54 tentang Qiamat; “dan Kamu
kuberitakan simpanan (rahasia),
begini; kita tidak mengalamai mati
semua, tetapi semua akan merubah
wajah, spontan (sekejab mata)
bersama terompet (sangkakala) yang
terakhir. Sebab sangkakala akan
berbunyi, orang mati akan
dibangunkan jadi abadi, dan kita akan
berubah wujud (jasad baru).
Di atas tadi ada kata-kata
Reinkarnasi, menjelma, kalau melihat
sehari-hari mati, hidup, buah, tetap
bergilir dari zaman dahulu. Jadi kata
penjelmaan itu tetap ada yang sudah
ditetapkan dari Sunnahnya Allah,
seperti dunia sudah diatur secara
sempurna.
Sebenarnya Islam itu menolak lahir
lagi, karena ada ukuran Islam di dunia
kalau sudah menyatu dengan Allah
(At’tauhid), kalau sudah mati sudah
sempurna (Innalillahi Wa Inna Illaihi
Raji’un). Kata-kata surat Maryam : 95,
mengatakan : “semua pada hari
Qiamat akan menghadap kehadapan
Allah dengan sendiri”.
Kata sendiri bagi ukuran lahir, sama
dengan tidak berteman, di wedaran
Wirid sebenarnya bayi lahir kedunia
sendiri, tidak merasakan apa-apa,
tidak mengetahui ibunya, apa saja itu
tidak bisa diteliti dengan ayat Qur’an,
surat Al-Kahfi : 48 di atas, umpama
ada bayi lahir kembar atau lebih,
antara sibayi dengan bayi yang lain
tidak mengenal dan tidak ingat apa-
apa.
Untuk meyakinkan keterangan di atas,
ayat dari kitab Injil mengatakan “kita
tidak akan mati semua, artinya bukan
rusak dunia dan umatnya, tetapi masih
lestari hidup didunia, jadi yang
mengatakan Qiamat itu rusak, itu tidak
benar. Ada kata-kata lagi begini :
“semua berubah wajah dengan
sekejab mata”, berubah sekejab mata
itu jelas benar, bila ada lahir wajahnya
berupa-rupa, ada yang gagah, cantik,
jelak dan lain-lain, orang hanya tahu
saja itu datangnya ke dunia hanya
sekejab mata, berubah wajah itu
artinya jasmaninya di ganti dengan
jasad yang baru.
Si X yang tadi mempunyai idam-
idaman, keinginan mempunyai wajah
yang cantik, walaupun keinginan lama
membekas (tabet-jawa) tetap tidak
bisa karena sudah ganti Roh si X di
Qiamatkan melalui jasmani baru.
Qur’an surat Al-Mukminun : 99 –
100 ;
99. “(Demikianlah keadaan orang-
orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia)”
100. “agar aku berbuat amal yang
saleh terhadap yang telah aku
tinggalkan. Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan
yang diucapkannya saja. Dan di
hadapan mereka ada dinding sampal
hari mereka dibangkitkan”
Artinya orang mati itu tidak bisa
berusaha apa-apa lagi, balik seperti
semula atau memohon yang lebih
baik, karena dibatasi alam barzah,
siapa yang mati jasmaninya hancur
jadi abu (tanah). Di Indonesia tidak
ada orang yang seperti Gajah Mada,
artinya cita-cita yang melekat pada
Roh Gajah Mada diteruskan dengan
bayi yang wajahnya tidak seperti
Gajah Mada. Ayat suci di kitab Qur’an
surat Ar-rum : 52 ;
“Maka Sesungguhnya kamu tidak akan
sanggup menjadikan orang-orang yang
mati itu dapat mendengar, dan
menjadikan orang-orang yang tuli
dapat mendengar seruan, apabila
mereka itu berpaling membelakang”
Artinya ayat-ayat itu jelas, bila kita-
kita suci Injil, Taurat, Zabur dan Al-
Qur’an itu tidak bisa untuk memberi
ilmu kepada orang yang berada di
dalam kuburan, tetapi kitab-kitab itu
isinya untuk orang hidup dan jalannya
yang menyentuh dengan tentang
Qiamat, sebenarnya sama dengan
lambang (istilah), karena di situ
banyak kata-kata yang intisarinya
seperti dunia dan isinya hancur
seperti debu.
Kalau menyatakan kata-kata ayat yang
ada, ada yang berbeda :
1. Kejadiannya benar-benar terjadi,
2. sebagai contoh, kalau dua-duanya
diteliti sama-sama masuk akal,
umpamanya seperti terjadinya hari
Qiamat.
Siapa saja kalau badan merasa sakit,
melihat apa-apa pasti pusing dan
badan terasa goyang (pitam-jawa).
Contoh di atas kalau dicocokan
dengan ayat-ayat Al-Qur’an orang-
orang yang hidup bisa merasakan, Dan
bisa di rasakan orang yang mati
mengalami sekaratul maut, masih bisa
merasakan tanggung jawab Roh.
Kata-kata mengalami sekaratul maut,
itu belum mati, karena masih bisa
merasakan. Sekaratul maut itu apa
tidak di katakan Qiamatnya Roh yang
akan pindah ke alam kubur. Qiamat itu
bangkit dari kubur, kalau sekaratil
maut itu merasa tidak enak, karena
belum mati. Walaupun merasa pusing
karena terbentur atau sewaktu
Sekaratil Maut masih bisa ingat dan
ingat itu alatnya orang hidup.
Menurut ucapan Nabi Muhammad SAW
yang terdapat di Hadist riwayat
Bhukari seperti yang di atas, Qiamat
artinya tumbuh dari bawah keatas
(dari Sudra ke Brahmana-kasta), dari
sifat rendah menjadi sifat luhur atau
mulia.
Nabi Muhammad dan Qur’an tidak
pernah mengucapkan Qiamat itu
rusak / hancur. Dan dalam buku Wirid
Hidayat Jati di tulis ayat : 1 sampai 10
itu diteliti, seperti orang yang merasa
kesusahan itu tidak enak. Kalau
dibandingkan dengan tandanya Qiamat
di Wirid ini ternyata Hidayat Jati itu
menerangkan tentang mati atau rusak
dunia manusia (jasmani).
Kata mengambil jelas seperti
mencabut nyawa, dalam Wirid Hidyat
Jati diterima bisaa saja, lalu
mengalami bertentangan dengan
Wedaran Wirid ini serta ucapan Nabi
Muhammad dan Qur’an;
1. Wedaran Wirid berdasar sunnah,
Hadist dan Qur’an, Dalil, Hadist,
Ijemak dan Qiyas; jadi kata Qiamat itu
bayi lahir dengan selamat.
2. Wedaran Hidayat Jati yang
berdasarkan Dalil, Hadist,
menyatakan; umpama hari Qiamat
sama-sama kedatangan Malaikat
Jibril untuk mencabut nyawa, tetapi
dengan sedikit demi sedikit, artinya
mengurangi kerjanya Panca Indra.
Di Qur’an, Hadist dan kitab lainnya
tidak ada menyalahkan adanya
dilahirkan lagi, berputar, menjelma
dan tidak ada yang membenarkan.
Reinkarnasi, dilahirkan lagi,
penjelmaan itu ditolak dengan agama
Islam, sebenarnya yang menolak
bukan Qur’an, Hadist dan Injil, tetapi
para sarjana (cendikiawan) yang
mempunyai gologan menolak
dilahirkan kembali kedunia yaitu
Ikhtikat Ma’rifat dan Islam
(sempurna), lalu di buat pedoman
orang awam (bisaa) kalau sudah
masuk agama apa saja menolak
dilahirkan kembali, menjelma dan
Reinkarnasi, akan tetapi perputaran itu
tetap ada (tidak pernah berhenti).
Jadi orang yang belum bisa At’tauhid
(menyatu dengan Allah) harus melalui
Qiamat, pakai badan jasmani,
sehingga bisa sembahyang (shalat)
Ma’rifat (Semadhi) sehingga mencapai
Islam sejati, baru disebut Innalillahi
wa innaillaihi rajiun (menghadap/
kembali kepada Allah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar