Selasa, 13 Agustus 2013

Tanya jawab


MEMBEDAH ALAM FIKIRAN
SITI JENAR
TANYA JAWAB DENGAN SYEH SITI
JENAR
Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal
sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu
ajaran yang menekankan aspek
kejiwaan dari pada aspek lahiriah
yang kasat mata. Intinya ialah konsep
tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran
Siti Jenar ialah tercapainya
manunggaling kawula-Gusti . Yaitu
bersatunya antara roh manusia
dengan Dzat Allah. Paham inilah yang
hampir sama dengan ajaran para
zuhud, wali dan orang-orang khowash.
Zuhud banyak dijumpai dalam dunia
tasawuf. Mereka merupakan orang-
orang atau kelompok yang menjauhkan
diri dari kemewahan dan kesenangan
duniawi. Sebab mereka mempunyai
tujuan hidup yang lebih utama, yakni
ingin mencapai kesucian jiwa atau
roh.
Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah
pencapaian spiritualitas yang tinggi
dalam penyatuan antara makhluk
dengan Dzat Pencipta, yang lebih
populer disebut sebagai manunggaling
kawula-Gusti . Bagian-bagian dari
ajaran itu adalah meliputi penguasaan
hidup, pengetahuan tentang pintu
kehidupan, tentang kematian, tempat
kelak sesudah ajal, hidup kekal tak
berakhir, dan tentang kedudukan Yang
Mahaluhur. Paham yang hampir
senada dengan falsafah Jawa kuno.
Suatu ketika Syeh Siti Jenar
mengajarkan ilmu kepada para murid-
muridnya. Syeh Siti Jenar
berkata,” Manusia harus berpegang
pada akal, meyakini pula dua puluh
sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain
yakni; wujud, tak berawal, tak
berakhir, berlainan dengan barang
baru, berkuasa, berkehendak,
berpengetahuan, memiliki ilmu secara
hakikat dan sebagainya. Para santri
mengajukan pertanyaan- pertanyaan
sebagai berikut;
Tentang Ketuhanan
M (murid) ; Apakah wujud dari Tuhan itu
dapat dimiliki oleh
manusia ?”
S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu
bisa dimiliki manusia
dan itulah inti dari
ajaran ini. Selama
manusia mampu
menjernihkan
kalbunya, maka ia
akan mempunyai
sifat-sifat itu. Sifat
tersebut pun sudah
kumiliki. Kalian bisa
melakukannya dengan
mengamalkan apa
yang hendak
kuajarkan. Allah
adalah satu-satunya
yang wajib disembah.
Dia tidak tampak dan
tidak berbentuk. Tidak
terlihat oleh mata.
Sedangkan alam dan
segala isinya
merupakan cerminan
dari wujud Allah yang
tampak. Seseorang
bisa meyakini adanya
Allah karena ia
melihat pancaran
wujudNya melalui
jagad raya ini. Allah
tidak berawal dan
berakhir, memiliki
sifat langgeng, tak
mengalami perubahan
sedikitpun. Allah
berada di mana-mana,
bukan ini dan bukan
itu. Dia berbeda
dengan segala wujud
barang baru yang ada
di dunia.
M ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan
kepada kami tentang
hakikat kodrat !”
S ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi
Tuhan. Tak ada yang
menyamainya.
KekuatanNya tanpa
sarana. kehadiranNya
berasal dari ketiadaan,
luar dan dalam tiada
berbeda. Tak dapat
ditafsirkan. Jika
engkau menghendaki
sesuatu maka pasti
kalian rencanakan
matang-matang dan
pasti pikirkan
berulang-ulang.
Itupun masih sering
meleset. Namun Allah
tidak demikian, bila
menghendaki sesuatu
tak perlu dipersoalkan
terlebih dahulu.
M ; Kalau begitu Allah tidak
memerlukan sesuatu ?
S ; Benar Allah tidak memerlukan
sesuatu. Karena itu
jika kalian hidup tanpa
memerlukan sesuatu,
tanpa butuh harta
benda, tanpa butuh
jabatan, tanpa butuh
pujian, maka kalian
akan merasakan hidup
yang sesungguhnya.
Kalian akan memiliki
sifat Allah tersebut.
M ; Kalau manusia menghindari
sesuatu dan merasa
tidak memerlukan
apapun, apakah
akhirnya dapat
disamakan dengan
Allah ?
S ; Tidak ! walaupun manusia hidup
tanpa bergantung
sama sekali kepada
duniawi, namun ia
tetap berbeda dengan
Allah. Tidak bisa
disamakan dengan
Tuhan. Allah adalah
pencipta dan kalian
adalah yang
diciptakan. Allah
berdiri sendiri, tanpa
memerlukan bantuan.
Hidupnya tanpa roh,
tidak merasa sakit
dan kesedihan, Allah
muncul
sekehendaknya.
M ; Jika Allah berkehendak, maka
apakah kehendak
seseorang itu karena
kemauan Allah ?
S ; Untuk sampai pada jawaban itu,
kita harus
membedakan
seseorang mana.
Manusia itu dibedakan
menjadi beberapa
tingkatan. Ada yang
awam, ada yang
khowash. Orang awam
hanya beribadah
secara syariat, tanpa
dapat memelihara
kalbu, maka ia masih
jauh bisa berhubungan
dengan Allah.
Sedangkan orang-
orang khowash,
termasuk para nabi,
rasul, dan waliyullah,
mereka beribadah
secara utuh. Bahkan
sampai pula pada
tingkatan hakikat.
Kalau kalbunya sudah
bersih dari duniawi
dan menyatu dengan
cahaya Ilahi, maka
kehendak dan
kemauannya itu
berasal dari Allah.
Perbuatannya adalah
perbuatan Allah. Maka
jangan heran jika ada
orang yang diberi
karomah sehingga
segala ucapannya
menjadi bertuah.
M ; Kalau begitu, ibadahnya orang
yang sudah khowash
itu merupakan
kehendak Allah ?
S ; Benar ! mereka mempunyai
kejernihan akal budi.
Memiliki kebersihan
jiwa dan ilmu. Shalat
lima waktu dan
berzikir merupakan
kehendak yang sangat
dalam. Bukan
kehendak nafsunya,
namun kehendak
Allah. Semangatnya
sedemikian besar.
Mereka shalat tidak
mengharapkan pahala,
tetapi merupakan
suatu kewajiban (diri)
dan pengabdian.
Badan haluslah yang
mendorong untuk
menjalankan.
M ; Banyak orang melakukan shalat
tetapi tidak
menyentuh kepada
Yang Disembah. Ini
bagaimana ?
S ; Memang banyak orang yang
secara lahiriah
tampak khusuk
shalatnya. Bibirnya
sibuk mengucapkan
zikir dan doa-doa,
namun hatinya ramai
oleh urusan duniawi
mereka. Islam yang
demikian ini ibarat
kelapa, mereka hanya
makan serabutnya.
Padahal yang paling
nikmat adalah buah/
daging kelapa dan air
kelapanya. Mereka
sembahyang lima
waktu sebatas lahiriah
saja. Tidak
berpengaruh sama
sekali kepada akal
budinya. Padahal
sembahyang itu
diharapkan dapat
mencegah keji dan
munkar namun mereka
tak mampu
melakukannya dalam
kehidupan sehari-
hari. Kalaupun hakikat
shalatnya itu
membekas pada
budinya itupun hanya
sedikit. Buat apa
sembahyang lima kali
jika perangainya
buruk ? masih suka
mencuri dan
berbohong. Untuk apa
bibir lelah berzikir
menyebut asma Allah,
jika masih berwatak
suka mengingkari
asma. Kadang-kadang
pula mereka berharap
pahala. Shalatnya saja
belum tentu dihargai
oleh Allah, tetapi
buru-buru meminta
balasan,…..aneh!
M ; Wahai Syeh, ada hadits
Rasulullah yang
menyebutkan bahwa
amal hamba yang
pertama kali
diperhitungkan adalah
sembahyang. Jika
sembahyangnya baik,
maka semua dianggap
baik. Ini bagaimana ?
S ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh
dipahami secara
dangkal makna dari
hadits tersebut. Hadits
itu mengandung logika
sebagai berikut; Orang
yang tekun
mengerjakan
sembahyang dengan
sempurna, maka
perilaku, budi pekerti
dan kalbunya juga
harus terpengaruh
menjadi baik. Sebab
sembahyang yang
dilakukan dengan jiwa
yang bersih akan
berpengaruh pula bagi
cabang kehidupan
lainnya. Lebih lanjut
Syeh Siti Jenar
mengatakan;
sebaliknya hadits itu
tidak berlaku bagi
orang yang tekun
mengerjakan
sembahyang tetapi
hatinya masih kotor,
tersimpan keinginan-
keinginan nafsu
misalnya ingin dipuji
orang lain, terdapat
ujub dan sombong,
serta budinya
menyimpang dan
menabrak tatanan
yang dilarang.
M ; Apakah ada tuntunan mengenai
pakaian seseorang
yang sedang
melakukan
sembahyang ?
S ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti
Jenar) tidak
sependapat jika ada
orang yang
mengenakan pakaian
gamis dan meniru-
niru pakaian orang
Arab dalam
melakukan shalat.
Jika selesai shalat,
jubah atau gamis itu
dilepaskan.
Sedangkan shalat
orang tersebut
tidaklah menyentuh
hatinya. Meskipun
berlama-lama
merunduk di masjid,
namun masih
mencintai duniawi.
Sembahyang yang
pakaiannya
kedombrangan,
merunduk di masjid
berlama-lama sampai
lupa anak istri.
Sedangkan ia masih
menyintai duniawi dan
mengumbar nafsu
manusiawinya.
Bahkan dalam
kehidupan sehari-hari,
ia seringkali
menyusahkan orang
lain. Maka orang yang
demikian itu tidak
terpengaruh oleh
sembahyang yang
dilakukan. Biasanya
tipe orang seperti itu
sibuk menghitung
pahala. Dia sangat
keliru dan bodoh.
Pahala yang masih
jauh tetapi
diperhitungkan.
Sungguh, sedikit pun
tak akan dapat
dicapainya.
M ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu
sesungguhnya siapa,
wahai Syekh ?
S ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah
Dzat yang tinggi dan
terhormat. Ia memiliki
dua puluh sifat, semua
timbul atas
kehendakNya. Ia
mampu mencurahkan
ilmu kebesaran,
kasampurnan,
kebaikan, keramahan,
kekebalan dalam
segala bentuk,
memerintah umat.
Dapat muncul di
segala tempat dan
sakti sekali. Aku
(Syekh Siti Jenar)
merasa wajib dan
menuruti
kehendakNya.
Sebagaimana ajaran
jabariyah, dengan
kesungguhan dan
konsekuen, selalu
kuat cita-citanya,
kokoh tak tergoyahkan
terhadap sesuatu yang
tidak suci, berpegang
teguh kepadaNya
selama hidup, tak
akan menyembah
terhadap ciptaanNya,
baik dalam wujud
maupun dalam
pengertian.
M ; Mengapa Kanjeng Syekh
dianggap oleh para
wali sebagai wali
murtad ?
S ; Karena ajaranku tidak mudah
dipahami orang awam.
M ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh
yang dianggap sesat ?
S ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat
Luhur, yang memiliki
semangat, sakti, dan
kekal akan kematian.
Dengan hilangnya
dunia Gusti Allah
telah memberi
kekuasaan kepadaku
dapat manunggal
denganNya, dapat
langgeng mengembara
melebihi kecepatan
peluru. Bukannya akal,
bukannya nyawa,
bukan penghidupan
yang tanpa penjelasan
dari mana asalnya dan
kemana tujuannya.
M ; Apa hubungannya antara
kanjeng Syeh Siti
Jenar dengan Allah,
yang kau sebut
sebagai Dzat sejati ?
S ; Dzat yang sejati menguasai
wujud penampilanku.
Karena kehendakNya
maka wajarlah jika
aku tidak mendapat
kesulitan. Aku bisa
berkelana ke mana-
mana. Tidak merasa
haus dan lelah, tanpa
sakit dan lapar,
karena ilmu kelepasan
diri, tanpa suatu daya
kekuatan. Semua itu
disebabkan jiwaku
tiada bandingannya.
Secara lahiriah
memang tidak berbuat
sesuatu, tetapi tiba-
tiba sudah berada di
tempat lain. Gusti
Kang Murbeng Dumadi
(Allah) yang kuikuti,
kutaati siang malam,
yang kuturut segala
perintahNya. Tiada
menyembah Tuhan
lain, kecuali setia
terhadap suara hati
nuraniku. Allah
Mahasuci.
M ; Wahai Syeh jelaskan apa yang
di maksud bahwa
Allah itu Maha Suci ?
S ; Allah Mahasuci itu hanyalah
sebatas istilah saja.
Merupakan nama
saja. Sebenarnya hal
itu dapat disamakan
dengan bentuk
penampilanku. Jika
kalian melihatku,
maka tampak dari luar
sebagai warangka
(kerangka), sedangkan
di dalamnya adalah
kerisnya (intinya)
Hyang Agung, yang tak
ada bedanya dengan
kerangka. Tuhan itu
wujud yang tidak
dapat dilihat dengan
mata, tetapi
dilambangkan seperti
bintang yang bersinar
cemerlang. Sifat-
sifatNya berwujud
samar-samar bila
dilihat, warnanya
indah sekali seperti
cahaya.
M ; Di manakah Tuhan berada ?
kami membayangkan
Dia ada di langit ke 7
dan bersemayam di
atas singgasana
layaknya raja.
S ; Siti Jenar mendadak tertawa.
Setelah tertawanya
reda, ia berkata, “Itu
salah besar, itu
kebodohan.
Sesungguhnya Tuhan
tidak berada di langit
ketujuh dan tidak
bertahta di singgasana
atau arsy (Kursi). Bila
kalian membayangkan
demikian, maka hati
kalian sudah musyrik.
Berdosa besar. Karena
kalian menyamakan
Dia dengan raja atau
dengan penguasa.
M ; Kami jadi bingung, Kanjeng
Syekh, lantas Tuhan
itu ada di mana ?
S ; Kalau kalian bertanya demikian,
maka jawabnya
mudah. Gusti Allah
itu tidak kemana-
mana, tetapi ada di
mana-mana.
M ; Kami semakin tak mengerti.
Bisakah Kanjeng Syeh
memberi penjelasan
yang lebih gamblang ?
S ; Gusti Allah itu berada pada dzat
yang tempatnya tidak
jauh. Dia bersemayam
di dalam tubuh kita.
Tetapi hanya orang
yang khowash, orang
yang terpilih dapat
melihat. Tentunya
dengan mata batin.
Hanya mereka yang
dapat merasakannya.
M ; Apakah Allah itu berupa roh
atau sukma ?
S ; Bukan roh dan bukan sukma.
Allah adalah wujud
yang tak dapat dilihat
oleh mata, tetapi
dilambangkan seperti
bintang-bintang
bersinar cemerlang.
Sudah kukatakan tadi,
warnanya indah
sekali. Ia memiliki
dua puluh sifat
seperti; sifat ada, tak
berawal, tak berakhir,
berbeda dengan
barang-barang yang
baru, hidup sendiri
dan tidak memerlukan
bantuan dari sesuatu,
berkuasa,
berkehendak,
mendengar, melihat,
berilmu, hidup dan
berbicara. Sifat Gusti
Allah yang duapuluh
itu terkumpul menjadi
satu wujud mutlak
yang disebut dengan
Dzat. Sifat duapuluh
itu juga menjelma
pada diriku. Karena itu
aku yakin tidak akan
mengalami sakit dan
sehat, punya budi
kebenaran,
kesempurnaan,
kebaikan dan
keramahan. Roh ku
memiliki sifat
duapuluh itu,
sedangkan ragaku
yang lahiriah memiliki
sifat nur Muhammad.
M ; Wahai Syekh, bukankah
Muhammad SAW itu
seorang nabi. Apakah
Syekh mengaku
sebagai Nabi ?
Sedangkan dikatakan
bahwa setelah nabi
Muhammad, di dunia
ini tidak ada kenabian
lagi ?
S ; Jangan salah menafsirkan kata-
kataku. Jika salah,
maka kau akan sesat
dan timbul fitnah.
Tentu saja memfitnah
diriku. Begini, bahwa
rohku adalah roh Ilahi.
Karena aku pun
memiliki sifat
duapuluh. Sedangkan
badan wadag ku,
jasadku ini, adalah
jasad Muhammad.
Dari segi lahiriah
Muhammad adalah
manusia. Namun
manusia Muhammad
berbeda dengan orang
kebanyakan.
Muhammad memiliki
jasad yang kudus,
yang suci. Aku dan dia
sama-sama
merasakan kehidupan,
merasakan manfaat
panca indera. Dan
panca indra itu
hanyalah meminjam.
Jika sudah diminta
kembali oleh
Pemiliknya akan
berubah menjadi tanah
yang busuk, berbau,
hancur dan najis. Nabi
atau wali, jika
sesudah kematian
jasadnya menjadi tak
bermanfaat. Bahkan
berbau, kotor, najis,
busuk dan hancur.
Warangka jika sudah
ditinggalkan kerisnya
maka tiada guna.
M ; Jika seseorang sudah mati,
berarti selesai sudah
kehidupannya ?
S ; Siapa bilang begitu ? Tidak !
meskipun jasadnya
mati, tetapi
sebenarnya ia tidaklah
mati. Karena itu,
kalian semua harus
mengerti bahwa dunia
ini sesungguhnya
bukanlah kehidupan.
Buktinya ada mati. Di
dunia ini, kehidupan
disebut kematian.
Coba rasakan ! Aku
mengajarkan kepada
kalian untuk tidak
menyintai dunia ini
dan tidak terpesona
terhadap
keindahannya. Carilah
kebenaran dan
kebahagiaan sejati
demi kehidupan
mendatang, kehidupan
setelah kematian.
Kalian akan berarti
jika telah menemui
kematian dan hidup
sesudah itu. Engkau
harus memilih hidup
yang tak bisa mati.
Dan hidup yang tak
bisa mati itu hanya
kalian rasakan setelah
nyawa terlepas dari
badan. Kehidupan itu
akan dapat dirasakan
dengan tanpa
gangguan seperti
sekarang ini.
Ketahuilah, hidup
yang sesungguhnya
adalah setelah nyawa
lenyap dari badan.
M ; Agar dapat meraih kehidupan
dalam kemuliaan
sejati kelak, dalam
kehidupan di dunia ini
dibutuhkan kebenaran
dan kebahagian sejati.
Bagaimanakah cara
mendapatkannya
Kanjeng Syekh ?
S ; Jiwa manusia adalah suara hati
nurani. suara hati
nurani merupakan
ungkapan Dzat Allah
yang harus ditaati
perintahnya. Maka
ikutilah hati nuranimu.
M ; Bagaimana caranya meyakinkan
bahwa suatu bisikan
adalah suara hati
nurani yang
sesungguhnya ?
S ; Kalian harus cermat, karena hati
nurani berbeda dengan
akal budi, jiwa itu
milik Allah,
sedangkan akal milik
manusia. Akal
bersifat manusiawi,
karena itu kadang-
kadang akal tak
mampu menemukan
keajaiban Allah.
Kehendak, angan-
angan, ingatan,
merupakan suatu akal
yang tak kebal atas
kegilaan. Suatu ketika
akal bisa menjadi
bingung sehingga
membuat seseorang
lupa diri. Akal
seringkali tidak jujur.
Siang malam
membuat kepalsuan
demi memakmurkan
kepentingan pribadi.
M ; Bukankah manusia menjadi
lebih mulia jika
dibandingkan dengan
makhluk lainnya,
karena manusia diberi
akal oleh Allah ?
S ; Ya, itulah yang membedakan.
Tapi jangan lupa
bahwa akal seringkali
tidak jujur. Sering
bersifat dengki, suka
memaksa, melanggar
aturan, jahat, suka
disanjung-sanjung,
sombong, yang
ahirnya membuat
manusia justru tidak
berharga samasekali.
Lebih hina dari
makhluk lainnya.
M ; Jadi kita harus menggunakan
akal sesuai dengan
jiwa atau kehendak
Allah ?
S ; Ya, benar. Jika seseorang
mampu
mengendalikan
akalnya dengan ajaran
Allah, dengan
kebenaran, dan
dengan jiwa yang
bersih, maka ia
bermanfaat.
Menjadikan diri lebih
mulia.
M ; Apa yang menghalangi
seseorang sehingga
gagal dalam dalam
menempuh
manunggaling kawula-
Gusti ?
S ; Jangan mementingkan
kehidupan duniawi.
Sebab kehidupan
duniawi yang kalian
jalani penuh kotoran.
Akal kalian mudah
tercemar dengan
kotoran sifat dan
mudah dikuasai oleh
nafsu, sehingga
menghalangi kalian
untuk bisa menuju
pada tahap
manunggaling
kawula-Gusti .
M ; Di dunia ini ada yang cantik,
tampan dan gagah.
Bagaimana kedudukan
orang-orang tersebut
jika kelak telah
terlepas rohnya ?
S ; Kalian jangan menyintai dan
mengagumi bentuk
yang cantik, tampan
atau gagah. Sebab
sebenarnya badan
wadag (jasad) laksana
sangkar yang
mengurung jiwa.
Badan wadag
merupakan beban
yang memberatkan
dan menyakitkan roh
kalian.
M ; Wahai Syekh, benarkah sesudah
kematian ada surga
neraka ?
S ; Para wali memang mengajarkan
demikian. Inilah
ajaran yang justru
menurutku
menyesatkan karena
terlalu dangkal. Para
wali hanya
mengajarkan
“serabut” atau
kulitnya, tidak sampai
pada isinya; tidak
sampai pada hakikat
yang sebenarnya.
Para wali
mengajarkan bahwa
surga dan neraka
hanya dijumpai kelak
setelah kiamat.
Adanya di akherat.
Dan orang-orang
awam menelan
mentah-mentah
keterangan itu. Siksa
kubur hanya dijumpai
dan dirasakan badan
wadag ketika di tanam
di kuburan. Para wali
memang bertujuan
baik, tetapi diputus
sampai di situ.
Mereka enggan
menjelaskan lebih
dalam dan lebih
sampai pada makna
yang hakiki.
M ; Kalau menurut Syekh
bagaimana ?
S ; Begini, untuk menemui dan
merasakan surga dan
neraka maka
seseorang tidak harus
menunggu sampai
mati atau sampai
datangnya kiamat. Di
dunia ini saja kita
sudah dapat
merasakan surga dan
siksa neraka. Karena
sesungguhnya surga
dan neraka itu berada
di dalam jiwa kalian.
Berada di dalam jiwa
setiap manusia yang
bernafas. Jika jiwa
manusia telah bersih
dari gangguan hawa
nafsu dan dapat
menyatu dengan Gusti
Allah, maka di dunia
ini ia akan merasakan
suatu kenikmatan
surga. Jika budi
kalian, misalnya
menolong orang
lemah, lalu hati
menjadi ikhlas dan
puas, maka itulah
yang disebut surga.
Sedangkan neraka,
perwujudannya adalah
jika hawa nafsu telah
menguasai diri
seseorang. Kemudian
jiwanya meronta dan
merasa bersalah.
Maka dia tentu
tersiksa. Ia tidak bisa
tidur, gelisah
pikirannya, sedih dan
bermacam-macam
rasa tak enak. Itulah
yang dinamakan
neraka.
M ; Jadi surga dan neraka di
akherat tidak berlaku ?
maksud kami tidak
ada ?
S ; Surga dan neraka di hari kiamat,
di akherat kelak,
sudah diterangkan
dalam Al Quran. Itu
perkara gaib dan erat
kaitannya dengan
iman. Kalian harus
meyakininya.
M ; Untuk apa meyakini ? bukankah
jika di dunia berbudi
baik dan beriman
kepada Allah sudah
merasakan surga.
Sedangkan surga dan
neraka di akhirat
hanyalah bersifat
menakut-nakuti
manusia agar tidak
berbuat buruk ?
S ; Pendapatmu memang cerdas
dan kritis. Namun
kalian tidak usah
mempertanyakan,
apakah kelak di
akhirat ada surga dan
neraka. Itu urusan
Gusti Allah. Kalian
harus meyakini.
Karena meyakini hari
akhir merupakan
rukun iman. Sekali
lagi, untuk
mendapatkan surga
pun kalian tak perlu
menunggu datangnya
hari akhir. Meskipun
seseorang
sembahyang seribu
kali setiap hari, toh
akhirnya mati juga.
Walaupun badanmu
kau tutupi dengan kain
surban dan jubah,
namun akhirnya
menjadi debu juga.
Maka jiwalah yang
paling penting. Jika
keadaan jiwa seperti
Tuhan, maka surga
akan didapatkannya.
Kenikmatan luar biasa
akan dirasakan.
M ; Wahai Syeh, sesungguhnya
yang menjadi
pikiranku adalah
sebelum ada dunia
ini, apakah sudah ada
dunia lainnya. Atau
setelah kiamat,
apakah Tuhan
membuat dunia baru
lagi seperti
sekarang ?
S ; Sebelum dunia ada, apakah ada
dunia lain, itu hanya
Allah yang tahu.
Tetapi sekarang kita
berada di dunia ini
menempati ruang dan
waktu. Dunia ini
asalnya adalah baru.
Kemudian mengalami
kerusakan dan kelak
akhirnya menjadi
hancur. Lenyap tak
berharga. Setelah
kiamat, apakah Tuhan
membuat dunia baru
untuk keduakalinya ?
Tidak !
M ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia
erat kaitannya dengan
raga kita, sedangkan
jiwa erat kaitannya
dengan alam akhirat ?
S ; Benar, dunia itu erat kaitannya
dengan raga. Raga
mempunyai sifat
seperti alam semesta,
yang semula baru
kemudian rusak.
Sedangkan jiwa tidak
akan mengenal
kerusakan karena jiwa
merupakan
penjelmaan Dzat
Allah. Ketahuilah
bahwa raga adalah
barang pinjaman yang
suatu saat akan
diminta oleh
Pemiliknya.
Ketahuilah wahai
murid-muridku. Raga
ini sesungguhnya
sangkar yang
membelenggu dan
menyulitkan jiwa.
Agar jiwa menjadi
bebas, maka suatu
saat kelak, kalian
akan kuajarai
bagaimana cara
melepas jiwa dari
raga. Ilmu melepas
jiwa artinya bahwa
kematian adalah titik
awal kehidupan yang
sebenarnya. Jika
seseorang raganya
mati, maka jiwanya
menjadi merdeka,
bebas dan tidak
terkungkung lagi.
Sebab raga
berhubungan erat
dengan alam semesta.
Sedangkan jiwa
berhubungan erat
dengan Dzat Tuhan.
selamanya jiwa tak
akan bisa mati atau
rusak.
M ; Apakah yang dimaksud jalan
kehidupan, wahai
Syekh ?
S ; Jalan kehidupan adalah jalan
menuju kepada hidup
yang sebenar-
benarnya, setelah
engkau mengalami
kematian. Jika
seorang bayi lahir,
maka bukanlah awal
kehidupan, namun
merupakan awal
“kehidupan palsu”
seperti yang kalian
rasakan saat ini.
Inilah yang
sesungguhnya
kematian sejati.
M ; Jika demikian badan ini tidak
bisa merasakan
kehidupan yang
sebenar-benarnya ?
S ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati
tidak dapat dirasakan
oleh raga, karena jika
raga mati akan tetapi
dapat dirasakan oleh
jiwa. Membusuk
menjadi tanah.
M ; Bagaimana jika sekarang ini
seseorang berbuat
dosa. Apakah jiwanya
ikut
bertanggungjawab.
Sedangkan yang
melakukan dosanya
adalah raga.
S ; Tetap ikut bertanggungjawab,
karena jiwa yang
menyatu ke dalam
raga tidak bisa
mencegah hawa
nafsunya serta akal
yang suka berbuat
buruk.
M ; Maaf saya belum paham Syekh.
S ; Ketahuilah, setiap orang yang
lahir di dunia ini maka
jiwanya menyatu
dengan akal. Selain
akal dalam diri
manusia juga ada
hawa nafsu. Ketika
seseorang berbuat
buruk, berarti raganya
didorong dan
dipengaruhi oleh hawa
nafsu dan akalnya.
Akal dan nafsu
memang suka berbuat
buruk. Apabila jiwa
mencegah (melalui
hati nurani), maka
raga tidak akan
berbuat buruk. Akan
tetapi jika jiwa
membiarkannya, maka
raga tetap
melakukannya.
Karena itu
bagaimanapun juga
jiwalah yang akan
mempertanggungjawa
bkan perbuatan baik
dan buruk raganya.
M ; Tadi Syekh mengatakan jiwa
adalah penjelmaan
dzat Tuhan. Mengapa
kadang-kadang jiwa
mau mencegah dan
kadang
membiarkannya ?
S ; Perlu kalian semua ingat, bahwa
di dalam raga ini
terdapat nafsu-nafsu.
Jika nafsu kuat
menguasai, maka jiwa
menjadi terbelenggu.
Karena itulah
mengapa aku katakan
bahwa kehidupan
sekarang ini adalah
kematian. Sedangkan
setelah ajal
merupakan awal
kehidupan. Sesudah
kematian maka
seseorang akan
mencapai kebebasan
jiwanya.
Ajaran Syekh Siti Jenar
memang agak beda dengan ajaran
para wali sanga. Siti Jenar
mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat
yang mendasari adanya manusia,
hewan, tumbuhan dan segala yang
ada. Keberadaan segala di dunia ini
tergantung pada adanya Zat. Tanpa
ada Zat Yang Mahakuasa, maka
mustahil sesuatu yang wujud itu ada.
Ajaran ini tidak pernah
disampaikan oleh para Wali Sanga.
Mereka menyadari bahwa umatnya
masih terlalu awam terhadap Islam,
sehingga memberi materi yang ringan
dan praktis saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar