Selasa, 13 Agustus 2013

Surga neraka tidak kekal

Assalamualykum.wr.wb.
Berawal dr diskusi ringan di fb
seputar buku ''Ternyata akhirat tidak
kekal''. Akhirnya sy mencoba
mengulas sedikit tentang isi buku
tsb berikut sanggahannya. Tentunya
akan saya kemukakan pendapat-
pendapat dari para ulama tafsir yang
jelas kompeten di dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺷَﻘُﻮﺍ ﻓَﻔِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺯَﻓِﻴﺮٌ ﻭَﺷَﻬِﻴﻖٌ
(106) ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎﺩَﺍﻣَﺖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ
ﺷَﺎﺀَ ﺭَﺑُّﻚَ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻓَﻌَّﺎﻝٌ ﻟِﻤَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُ (107) ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﺳُﻌِﺪُﻭﺍ ﻓَﻔِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣَﺖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ
ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣَﺘِﺎﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻋَﻄَﺎﺀً
ﻏَﻴْﺮَ ﻣَﺠْﺬُﻭﺫٍ 108) )
“ Adapun orang-orang yang celaka,
maka (tempatnya) di dalam neraka,
di dalamnya mereka mengeluarkan
dan menarik nafas (dengan
merintih), mereka kekal di dalamnya
selama ada langit dan bumi, kecuali
jika Tuhanmu menghendaki (yang
lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Pelaksana terhadap apa yang Dia
kehendaki. Adapun orang-orang
yang berbahagia, maka tempatnya di
dalam syurga, mereka kekal di
dalamnya selama ada langit dan
bumi, kecuali jika Tuhanmu
menghendaki (yang lain); sebagai
karunia yang tiada putus-
putusnya .” (QS. Huud: 106-108)
Jika kita melihat ayat di atas,
seakan-akan ada yang ganjil. Allah
mengisyaratkan surga dan neraka itu
ada selama bumi dan langit itu ada.
Dari sini bisa diyakini bahwa surga
dan neraka itu tidak kekal. Ayat
inilah yang menjadi dasar keyakinan
Ir. Agus Mustofa (Penulis Buku
Tasawuf Modern) dalam bukunya “
Ternyata Akhirat Tidak Kekal ” [1] .
Berikut kami cuplik sedikit
perkataan beliau dalam buku
tersebut setelah beliau
membawakan surat Huud ayat
106-108:
“Ayat di atas bercerita tentang
keadaan penduduk neraka dan
penduduk surga. Dikatakan
oleh Allah, bahwa mereka itu
akan kekal di dalam surga atau
neraka selama ada langit dan
bumi.
Informasi ini, sungguh sangat
menggelitik logika kita. Kenapa
demikian? Sebab ternyata
kekekalan surga dan neraka itu
–menurut ayat ini- tergantung
pada kondisi lainnya, yaitu
keberadaan langit dan bumi
alias alam semesta.
Dengan kata lain, akhirat itu
akan kekal jika langit dan bumi
atau alam semesta ini juga
kekal.
Sehingga, kalau suatu ketika
alam semesta ini mengalami
kehancuran, maka alam akhirat
juga bakal mengalami hal yang
sama, kehancuran.
Tentu, hal ini membuat kita
agak shock. Sebab ini telah
menggoyang apa yang sudah
kita pahami selama ini. Bahwa
yang namanya akhirat itu
adalah alam baka. Alam yang
kekal abadi, dan tidak akan
pernah mengalami kiamat lagi.
Dan itu telah dikatakan
berulang-ulang dalam Al
Qur’an.
Akan tetapi, apakah kita tidak
percaya kepada firman Allah di
atas, bahwa Surga dan Neraka
itu kekalnya adalah sekekal
langit dan bumi? Tentu saja,
kita juga nggak berani untuk
tidak percaya, sebab kalimat-
kalimat di atas
demikiangamblangnya:
Khaalidiina fiiha maadaamatis
samaawaati wal ardhi ...
(kekal di dalamnya selama ada
langit dan bumi ...) ” (hal. 234)
Demikian sedikit nukilan dari
perkataan beliau, yang
kesimpulannya sesuai judul bukunya
yaitu akhirat itu tidaklah kekal. Kami
sangat tergelitik sekali ingin
menyanggah pernyataan beliau di
atas dengan merujuk pada pakar
tafsir terkemuka.
Yang tentunya ilmu ulama tafsir
sudah pasti lebih terpercaya.
Semoga Allah memudahkan untuk
menyelesaikan tulisan ini karena
ingin mengharapkan wajah-Nya
yang mulia.
3 Hal yang Mesti Diyakini Mengenai
Surga dan Neraka
Sebagaimana yang dijelaskan oleh
Al Hafizh Al Hakami rahimahullah ,
keyakinan terhadap surga dan
neraka yang mesti diyakini adalah 3
hal.
*. Beliau sebut dalam bait syairnya,
ﻭﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﻭَﺍﻟﺠَﻨَّﺔُ ﺣَﻖٌّ ﻭَﻫُﻤَﺎ ... ﻣَﻮْﺟُﻮْﺩَﺗَﺎﻥِ ﻻَ ﻓَﻨَﺎﺀَ ﻟَﻬُﻤَﺎ
“ Neraka dan surga adalah benar
adanya. Keduanya telah ada saat ini.
Dan keduanya tidaklah fana. ”
Berikut sedikit uraiannya. [2]
*. Pertama :
Surga dan neraka itu benar adanya,
tidak ada keraguan sedikit pun
tentangnya.
Di antara dalilnya,
ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
(131) ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺣَﻤُﻮﻥَ
(132) ﻭَﺳَﺎﺭِﻋُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺟَﻨَّﺔٍ
ﻋَﺮْﺿُﻬَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ
133) )
“ Dan peliharalah dirimu dari
api neraka , yang disediakan
untuk orang-orang yang kafir.
Dan taatilah Allah dan Rasul,
supaya kamu diberi rahmat.
Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu dan
kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang
telah disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa. ” (QS. Ali
Imron: 131-133)
*. Kedua : Surga dan neraka sudah
ada saat ini.
Tentang surga, Allah Ta’ala
berfirman,
ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ
“ Yang telah disediakan untuk
orang-orang yang bertakwa.
” (QS. Ali Imron: 133)
*. Tentang neraka, Allah Ta’ala
berfirman,
ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
“ Yang telah disediakan untuk
orang-orang kafir. ” (QS. Ali
Imron: 131).
Jika dikatakan “telah disediakan”,
berarti keduanya telah ada.
Dari Imron bin Hushain, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺍﻃَّﻠَﻌْﺖُ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﺮَﺃَﻳْﺖُ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَﺍﺀَ ، ﻭَﺍﻃَّﻠَﻌْﺖُ
ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻓَﺮَﺃَﻳْﺖُ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ
“ Aku pernah melihat surga, lalu aku
melihat bahwa kebanyakan
penghuninya adalah orang-orang
miskin. Aku pun pernah melihat
neraka, lalu aku melihat kebanyakan
penghuninya adalah para
wanita .” [3]
Dari Ibnu ‘Abbas, Rofi’ bin Khudaij,
‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺍﻟْﺤُﻤَّﻰ ﻣِﻦْ ﻓَﻴْﺢِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ، ﻓَﺄَﺑْﺮِﺩُﻭﻫَﺎ ﺑِﺎﻟْﻤَﺎﺀِ
“ Sakit demam berasal dari
panasnya jahannam. Oleh
karenanya, dinginkanlah demam
tersebut dengan air. ” [4]
*. Ketiga :
Surga dan neraka itu kekal karena
Allah yang menghendaki keduanya
untuk kekal. Keduanya tidaklah fana.
Banyak sekali dalil yang
membicarakan hal ini, berikut kami
sebutkan sebagiannya.
Tentang surga, Allah Ta’ala
berfirman,
ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ
“ Mereka kekal di dalamnya . Itulah
kemenangan yang besar. ” (QS. At
Taubah: 100)
Tentang neraka, Allah Ta’ala
berfirman,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻭَﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻴَﻐْﻔِﺮَ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ
ﻟِﻴَﻬْﺪِﻳَﻬُﻢْ ﻃَﺮِﻳﻘًﺎ , ﺇِﻟَّﺎ ﻃَﺮِﻳﻖَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺃَﺑَﺪًﺍ
“ Sesungguhnya orang-orang yang
kafir dan melakukan kezaliman,
Allah sekali-kali tidak akan
mengampuni (dosa) mereka dan
tidak (pula)akan menunjukkan jalan
kepada mereka, kecuali jalan ke
neraka Jahannam; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya .” (QS.
An Nisa’: 168-169)
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ، ﻭَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﺛُﻢَّ
ﻳَﻘُﻮﻡُ ﻣُﺆَﺫِّﻥٌ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻻَ ﻣَﻮْﺕَ ، ﻭَﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ
ﻻَ ﻣَﻮْﺕَ، ﺧُﻠُﻮﺩٌ
“ Jika penduduk surga telah
memasuki surga dan penduduk
neraka telah memasuki neraka,
kemudian seseorang akan meneriaki
di antara mereka, “Wahai penduduk
neraka, tidak ada lagikematian untuk
kalian . Wahai penduduk surga, tidak
ada lagi kematian untuk kalian.
Kalian akan kekal di dalamnya . ” [5]
Awal Sanggahan dari Mustofa Bisri
Buku “ Ternyata Akhirat Tidak Kekal
” sebenarnya sudah dikritisi lebih
terlebih dulu oleh A. Mustofa Bisri.
Berikut pemaparan beliau ketika
memberikan pengantar untuk buku
tersebut.
“Yang paling menarik tentu
kesimpulan Agus Mustofa
tentang ketidak-kekalan
Akhirat, yang karenanya
kemudian menjuduli bukunya
dengan “ Ternyata Akhirat
Tidak Kekal ” ini .
Kesimpulannya itu antara lain
didasarkan pada Q.S. 11 Hud:
107 dan 108, di mana -menurut
pemahaman Agus- kekekalan
mereka yang berbahagia di
sorga maupun celaka di neraka
digantungkan “kepada kondisi
lainnya, yaitu keberadaan
langit dan bumi alias alam
semesta”.
Dengan kata lain, paparnya,
“Akhirat itu akan kekal jika
langit dan bumi atau alam
semesta ini juga kekal.
Sehingga kalau suatu ketika
alam semesta ini mengalami
kehancuran, maka alam akhirat
juga bakal mengalami hal yang
sama, kehancuran” (hal. 234).
Pendapat ini diperkuat dengan
kutipan Q.S. 28: Al Qashash:
88,
ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ
“Tiap-tiap sesuatu itu pasti
binasa kecuali ‘Wajah-Nya’”
Kesimpulan dan pendapat itu
terjadi karena Agus Mustofa
tidak mempertimbangkan atau
mengabaikan tafsir-tafsir yang
ada, khususnya mengenai
kalimat:
ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣَﺖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ
Misalnya, tafsiran Ahli Tafsir
yang menyatakanbahwa yang
dimaksud “langit dan bumi”
adalah langit dan bumi yang
lain, berdasarkan QS. 14: 48
ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﺒَﺪَّﻝُ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ
“ (Yaitu) pada hari (ketika)
bumi diganti dengan bumi yang
lain dan (demikian pula)
langit.” ... [6]
Demikian sebagian komentar dari
Bapak Mustofa Bisri yang mengkritik
pendapat kontroversial dari Agus
Mustofa. Intinya, pendapat yang
diutarakan oleh Agus Mustofa
berseberangan dengan pendapat ahli
tafsir dan para ulama yang tentu
lebih memahami ayat tersebut.
Mari kita simak penjelasan
selanjutnya.
Merujuk Tafsiran Ulama
*. Pertama :
Muhammad bin Jarir bin Yazid bin
Katsir bin Gholib Al Amili (Abu Ja’far
Ath Thobari)
Mengenai ayat,
ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣَﺖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ
“ Mereka kekal di dalamnya selama
ada langit dan bumi ”, Ibnu Jarir Ath
Thobari rahimahullah mengatakan,
“Orang Arab biasanya jika ingin
mensifatkan sesuatu itu kekal
selamanya, maka mereka akan
mengungkapkan dengan,
ﻫﺬﺍ ﺩﺍﺋﻢ ﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ
“Ini kekal selama langit dan bumi
ada.” Namun maksud ungkapan ini
adalah kekal selamanya . [7]
*. Kedua : Abul Fida’ Isma’il bin
‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad
Dimasyqi
Selain membawakan perkataan Ibnu
Jarir Ath Thobari, Ibnu Katsir
membawakan penafsiran lain. Beliau
rahimahullah mengatakan, “Boleh
jadi dipahami bahwa maksud ayat “
selama langit dan bumi itu ada ”
adalah jenis langit dan bumi
(maksudnya: langit dan bumi yang
beda dengan saat ini, pen). Karena
sudah pasti alam akhirat juga ada
langit dan bumi (namun berbeda
dengan saat ini, pen).
Buktinya adalah firman Allah Ta’ala ,
ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﺒَﺪَّﻝُ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi
diganti dengan bumi yang lain dan
(demikian pula) langit .” (QS.
Ibrahim: 48)
Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri
menjelaskan mengenai firman Allah,
ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣَﺖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ
“ Mereka kekal di dalamnya selama
ada langit dan bumi ”, maksudnya
adalah Allah mengganti langit
berbeda dengan langit yang ada saat
ini. Begitu pula Allah mengganti
bumi berbeda dengan bumi yang ada
saat ini. Langit dan bumi (yang
berbeda dengan saat ini tadi, pen)
pun akan terus ada.”
*. Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa
Sufyan bin Husain menyebutkan dari
Al Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu
‘Abbas, beliau mengatakan mengenai
firman Allah (yang artinya), “ Mereka
kekal di dalamnya selama ada langit
dan bumi, ” yaitu setiap surga itu
memiliki langit dan bumi.
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam
menafsirkan, “Yaitu selama bumi itu
menjadi bumi (yang berbeda dengan
saat ini, pen) dan langit menjadi
langit (yang berbeda dengan saat ini,
pen).” –Demikian penjelasan Ibnu
Katsir rahimahullah mengenai surat
Huud ayat 107. [8]
*. Ketiga : Abu Muhammad Al Husain
bin Mas’ud AlBaghowi
Al Baghowi menyatakan yang hampir
sama dengan Ibnu Jarir Ath Thobari
dan Ibnu Katsir. Al Baghowi
mengatakan, “Mengenai ayat (yang
artinya), “ Mereka kekal di dalamnya
” yaitu terusberada tinggal di
dalamnya. Sedangkan ayat (yang
artinya), “ Selama langit dan bumi itu
ad a”,sebagaimana dikatakan oleh
Adh Dhohak, “Selama langit dan
bumi dari surga dan neraka itu ada.
Karena segala sesuatu yang berada
di atasmu dan menaungimu itulah
langit. Sedangkan segala sesuatu
sebagai tempat engkau berpijak
itulah bumi.
Begitu pula para pakar tafsir
menjelaskan bahwa ungkapan dalam
ayat tersebut dimaksudkan untuk
menunjukkan kekalnya sesuatu.
Inilah ungkapan yang biasa
disebutkan oleh orang Arab. Mereka
biasa mengatakan, “Saya tidak akan
mendatangimu selama langit dan
bumi itu ada”. Atau mereka katakan,
“... selama bergantinya malam dan
siang”. Mereka maksudkan ini
semua untuk mengungkapkan “
selamanya ”.” [9]
*. Keempat :
Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad
Asy Syaukani
Tentang ayat (yang artinya), “Selama
langit dan bumi itu ada,” Asy
Syaukani menukil perkataan Ibnu
‘Abbas yang dikeluarkan oleh Ibnu
Abi Hatim, beliau mengatakan
maksud ayat tadi, “Setiap surga
memiliki langit dan bumi
tersendiri.” [10]
*. Kelima : Mahmud bin ‘Amr bin
Ahmad Az Zamakhsyari
Az Zamakhsyari menyatakan
penafsiran yang sama dengan Ibnu
Jarir dan Ibnu Katsir. Jadi, makna
ayat (yang artinya), “Selama langit
dan bumi itu ada”, maksudnya: [1]
Yang dimaksud adalah langit dan
bumi di akhirat, keduanya itu abadi
dan makhluk yang kekal, [2]
ungkapan orang Arab yang ingin
menyatakan sesuai itu kekal dan
tidak ada ujung akhirnya.
Untuk maksud pertama ini, beliau
membawakan dua ayat bahwa di
akhirat itu ada langit dan bumi
tersendiri.
Ayat pertama, Allah Ta’ala
berfirman,
ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﺒَﺪَّﻝُ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi
diganti dengan bumi yang lain dan
(demikian pula) langit .” (QS.
Ibrahim: 48)
Ayat kedua, Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﺃَﻭْﺭَﺛَﻨَﺎ ﺍﻷﺭﺽ ﻧَﺘَﺒَﻮَّﺃُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺣَﻴْﺚُ ﻧَﺸَﺎﺀ
“ Dan telah (memberi) kepada kami
bumi (tempat) ini sedang kami
(diperkenankan) menempati tempat
dalam surga di mana saja yang kami
kehendaki.” (QS. Az Zumar: 74) [11]
*. Keenam :
Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
mengungkapkan, “Sekelompok
ulama menjelaskan mengenai firman
Allah (yang artinya), “Selama langit
dan bumi itu ada”, yaitu yang
dimaksud adalah langit dari surga
dan bumi dari surga. Sebagaimana
disebutkan dalam Shahihain , Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“ Jika kalian ingin meminta
pada Allah, mintalah
surgaFirdaus. Firdaus adalah
surga yang paling tinggi dan
merupakan surga pilihan.
Sedangkan atap (langit) dari
surga tersebut adalah ‘Arsy
Allah ”.
Begitu pula sebagian ulama ketika
menjelaskan mengenai firman Allah,
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺘَﺒْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺰَّﺑُﻮﺭِ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻳَﺮِﺛُﻬَﺎ
ﻋِﺒَﺎﺩِﻱَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤُﻮﻥَ
“ Dan sungguh telah Kami tulis di
dalam Zabur sesudah (Kami tulis
dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya
bumi ini dipusakai hamba-hambaKu
yang saleh .” (QS. Al Anbiya’: 105).
Yang dimaksudkan di sini adalah
bumi di surga. Oleh karena itu tidak
bertentangan antara yang
menyatakan langit akan terlipat
(yaitu langit dunia, pen). Sedangkan
langit yang tetap terus ada adalah
langit (atap) dari surga. Oleh karena
itu, yang mesti kita pahami adalah
segala sesuatu yang berada di atas,
maka ia disebut secara bahasa
dengan langit ( as samaa’ ).
Sebagaimana pula hujan disebut
dengan samaa’ (langit). Dan atap
juga disebut dengan
samaa’ (langit).” [12]
Ringkasnya , mengenai surat Huud
ayat 107 dan 108, ada dua
penafsiran:
*. Pertama : Yang dimaksud adalah
langit dan bumiyang ada di akhirat
nanti.
*. Kedua : Penyebutan “selama langit
dan bumi itu ada” adalah ungkapan
orang Arab yang ingin menyebutkan
sesuatu itu kekal abadi.
Bandingkan tafsiran di atas ini
dengan pemahamann penulis buku
tersebut.(Kekeliruan Penulis Buku
“Ternyata Akhirat Tidak Kekal”)
Dari penjelasan ulama di atas,
terlihat jelas bahwa surat Huud ayat
16-108 bukan memaksudkan akhirat
itu tidak kekal sebagaimana yang
disalah pahami oleh Agus Mustofa.
Sudah jelaslah kekeliruan yang
beliau utarakan dalam buku tersebut.
Intinya, kekeliruan yang beliau
lakukan disebabkan beberapa hal:
Pertama:
Hanya bergantung pada logika yang
dangkal
Setelah beranjak dari pemahaman
keliru terhadap surat Huud ayat 107
dan 108, beliau pun mengemukakan
argumen sains.
Namun ini sudah beranjak dari
pemikiran keliru terhadap ayat tadi
dan dibangun di atas logika yang
fasid (rusak). Yang namanya logika
jika bertentangandengan dalil, maka
dalil yang mesti didahulukan karena
logika tentu saja terbatas.
Coba pahami baik-baik perkataan
seorang alim, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah berikut ini.
“ Bahkan akal adalah syarat
untuk mengilmui sesuatu dan
untuk beramal dengan baik dan
sempurna. Akal pun akan
menyempurnakan ilmu dan
amal. Akan tetapi, akal tidaklah
bisa berdiri sendiri . Akal bisa
berfungsi jika dia memiliki
instink dan kekuatan
sebagaimana penglihatan mata
bisa berfungsi jika ada cahaya.
Apabila akal mendapati cahaya
iman dan Al Qur’an barulah
akal akan seperti mata yang
mendapatkan cahaya mentari.
Jika bersendirian tanpa
cahaya, akal tidak akan bisa
melihat atau mengetahui
sesuatu .” [13]
Intinya, logika bisa berjalan dan
berfungsi jika ditunjuki oleh dalil
syar’i yaitu dalil dari Al Qur’an dan
As Sunnah. Tanpa cahaya ini, akal
tidak akan berfungsi sebagaimana
mestinya. Sedangkan tentang surga
dan neraka, betapa banyak ayat yang
menunjukkan kekalnya.
Pantaskah di sini akal mengalahkan
dalil Al Qur’an dan As Sunnah?
Logika barulah benar jika memang
tidak berseberangan dengan wahyu.
Kedua:
Pengarang buku ini tidak mau
merujuk pada ulama ulama tafsir.
Inilah salah satu kekeliruannya lagi.
Jarang sekali kami lihat dalam buku
beliau yang menukil perkataan
ulama atau mau merujuk pada
mereka dalam menafsirkan ayat.
Beliau kadang menafsirkannya
sendiri sehingga bisa salah fatal
semacam ini.
Maka benarlah apa yang dikatakan
oleh Umar bin 'Abdul 'Aziz,
ﻣَﻦْ ﻋَﺒَﺪَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺎ ﻳُﻔْﺴِﺪُﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻤَّﺎ
ﻳُﺼْﻠِﺢُ
” Barangsiapa beribadah pada
Allah tanpa ilmu, maka
kerusakan yang ditimbulkan
lebih besar daripada perbaikan
yang dilakukan. ” [14]
Kita punya kewajiban jika tidak tahu
tentang masalah agama termasuk
pula dalam memahami ayat untuk
bertanya pada orang berilmu.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“ Maka tanyakanlah olehmu
kepada orang-orangyang
berilmu, jika kamu tiada
mengetahui .” (QS.An Nahl: 43
dan Al Anbiya’: 7).
Ingatlah, obat dari kebodohan adalah
dengan bertanya pada ahli ilmu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺷِﻔَﺎﺀُ ﺍﻟْﻌِﻰِّ ﺍﻟﺴُّﺆَﺍﻝُ
“ Obat dari kebodohan adalah
dengan bertanya. ” [15]
Ketika membawakan hadits ini, Ibnu
Qayyim Al Jauziyah mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyebut kebodohan dengan
penyakit dan obatnya adalahdengan
bertanya pada para ulama (yang
berilmu).” [16]
Ketiga:
Mengikut ayat mutasyabih (yang
masih samar)
Sebelum menyebutkan pendapatnya
pada halaman 234, sebenarnya Ir.
Agus Mustofa sudah memaparkan
ayat-ayat yang menunjukkan
kekalnya surga dan neraka.
Bahkan beliau sendiri katakan di hal.
232 dari bukunya, “Dan masih
banyak lagi ayat tentang kekekalan
Surga, Neraka, atau Akhirat itu. Tak
kurang dari 110 ayat yang
menggambarkan, betapa akhirat,
surga dan neraka itu kekal.”
Namun ketika sampai pada hal. 234,
setelah membawakan surat Huud
ayat 106-108, beliau pun
mengatakan,
“Justru di sinilah kunci
pemahamannya. Pertama,
bahwa akhirat tersebut
sesungguhnya memang tidak
kekal . Akan tetapi,
ketidakkekalan itu bukan
berarti meringankan arti dari
informasi-informasi
sebelumnya yang mengatakan:
Khaalidiina fiiha... (kekal di
dalamnya ...). Dan di ayat
lainnya lagi seringkali
ditambahkan kata
‘abada’ (abadi, selama-
lamanya). Miliaran tahun!
Karena kekal yang
dimaksudkan tersebut memang
bukan kekal yang tidak
terbatas. Akhirat adalah
makhluk. Karena itu ia pasti
memiliki awal dan akhir.”
Demikian perkataan beliau.
Semula ia katakan bahwa 110 ayat
membicarakan kekekalan akhirat,
namun ketika bertemu dengan surat
Huud ayat 106-108, baru ia menjadi
bingung. Lalu akhirnya ia simpulkan
bahwa akhirat itu tidak kekal.
Bagaimana mungkin hanya
berpegang pada surat Huud lalu
mengalahkan 110 ayat yang
menyatakan kekekalan surga dan
neraka?!
Thoriqoh (metode) orang-orang yang
menyimpang memang seperti ini.
Kebiasaannya adalah selalu
mempertentangkan ayat yang
satudan lainnya. Atau kebiasaannya
adalah berpegang pada ayat yang
masih samar (baca: mutasyabih) dan
meninggalkan ayat-ayat yang sudah
jelas yaitu ayat muhkam.
Seharusnya sikap yang tepat ketika
seseorang menemukan ayat-ayat
yang samar dan sulit baginya untuk
memahaminya adalah ia pahami dan
membawa ayat tersebut kepada ayat
muhkam (yang sudah jelas
maknanya) . Bukan malah yang jadi
pegangan adalah ayat mutasyabih
yang masih samar.
Itulah yang diperintahkan oleh Allah
Ta’ala , ketika kita menemukan ayat
masih samar, bawalah ayat tersebut
kepada ayat yang sudah jelas
maknanya agar kita tidak tersesat.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻨْﻪُ ﺁَﻳَﺎﺕٌ ﻣُﺤْﻜَﻤَﺎﺕٌ
ﻫُﻦَّ ﺃُﻡُّ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺃُﺧَﺮُ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺎﺕٌ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻓِﻲ
ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﺯَﻳْﻎٌ ﻓَﻴَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺗَﺸَﺎﺑَﻪَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﺑْﺘِﻐَﺎﺀَ ﺍﻟْﻔِﺘْﻨَﺔِ
ﻭَﺍﺑْﺘِﻐَﺎﺀَ ﺗَﺄْﻭِﻳﻠِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺄْﻭِﻳﻠَﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺁَﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻪِ ﻛُﻞٌّ ﻣِﻦْ
ﻋِﻨْﺪِ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺬَّﻛَّﺮُ ﺇِﻟَّﺎ ﺃُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﺄَﻟْﺒَﺎﺏِ
“ Dia-lah yang menurunkan Al
Kitab (Al Quran) kepada kamu.
Di antara (isi) nya ada ayat-
ayat yang muhkamaat, itulah
pokok-pokok isi Al qur'an dan
yang lain (ayat-ayat)
mutasyaabihaat. Adapun
orang-orang yang dalam
hatinya condong kepada
kesesatan, makamereka
mengikuti sebahagian ayat-
ayat yang mutasyaabihaat
daripadanya untuk
menimbulkan fitnah untuk
mencari-cari ta'wilnya,
padahal tidak ada yang
mengetahui ta'wilnya
melainkan Allah. Dan orang-
orang yang mendalam ilmunya
berkata: "Kami beriman kepada
ayat-ayat yang
mutasyaabihaat, semuanya itu
dari sisi Tuhan kami." Dan
tidak dapat mengambil
pelajaran (daripadanya)
melainkan orang-orang yang
berakal .” (QS. Ali Imron: 7).
Ayat-ayat yang muhkam (yang sudah
jelas maknanya) dalam ayat ini
disebut dengan ummul kitaab (induk
kitab) . Artinya, ayat-ayat muhkam
inilah yang jadikan rujukan ketika
bertemu dengan ayat-ayat yang
masih samar bagi sebagian orang
(mutasyabihaat). [17] Namun
kecenderungan orang-orang yang
sesat adalah biasa mengikuti ayat
mutasyabih (yang masih samar).
Ibnu Katsir rahimahullah
mengatakan,
“Adapun orang-orang yang
dalam hatinya condong kepada
kesesatan, yaitu keluar dari
kebenaran menuju pada
kebatilan, maka mereka
mengikuti ayat yang masih
mutasyabih (masih samar).
Mereka mengambil ayat
mutasyabih tersebut yang
mampu mereka selewengkan
sesuai maksud mereka yang
keliru dan dijadikan sebagai
pembela mereka karena makna
yang masih bisa
diselewengkan sesuka mereka.
Adapun ayat-ayat yang
muhkam (yang sudah jelas
maknanya), seperti itu tidak
dijadikan rujukan mereka.
Mereka tidak mau berpegang
pada ayat yang muhkam
karena itu bisa menyangkal
dan menjatuhkan pendapat
mereka sendiri. ” [18]
Penutup
Inilah beberapa kekeliruan dasar
penulis Agus Mustofa. Ditambah lagi
pemahaman beliau yang berbau
tasawuf dan filsafat, hal ini semakin
menambah kelamnya buku “Ternyata
Akhirat Tidak Kekal”.
Kami hanya mengingatkan,
waspadalah terhadap buku-buku dan
pemahaman beliau sebagaimana
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menasehati kita agar waspada
dengan orang-orang yang hanya mau
berpegang pada ayat mutasyabih
(yang masih samar) dan
meninggalkan jauh-jauh ayat
muhkam (yang sudah jelas
maknanya).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ,
beliau mengatakan bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
membaca surat Ali Imron ayat 7 di
atas, lalu ‘Aisyah mengatakan bahwa
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺗَﺸَﺎﺑَﻪَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﺳَﻤَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﺎﺣْﺬَﺭُﻭﻫُﻢْ
“ Jika kalian melihat orang-orang
yang sering mengikuti ayat-ayat
yang mutasyabih (yang masih
samar), maka merekalah yang Allah
sebut(dalam surat Ali Imron ayat 7).
Oleh karenanya, Waspadalah
terhadap mereka . ” [19]
Semoga Allah memberi taufik dan
hidayah pada penulis buku tersebut.
Semoga kaum muslimin yang lain
dapat terhindar dari kekeliruan-
kekeliruannya. Hanya Allah yang
memberi taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan
nikmat-Nya segala kebaikan
menjadi sempurna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar