Minggu, 11 Agustus 2013

Sangkan paran

Tuhan adalah “Sangkan
Paraning Dumadi
Tuhan adalah “Sangkan Paraning
Dumadi”.
IA adalah sang Sangkan sekaligus
sang Paran, karena itu juga disebut
Sang Hyang Sangkan Paran. Ia hanya
satu, tanpa kembaran, dalam bahasa
Jawa dikatakan Pangeran iku mung
sajuga, tan kinembari . Orang Jawa
biasa menyebut “Pangeran” artinya
raja, sama dengan pengertian “Ida
Ratu” di Bali.
Masyarakat tradisional sering
mengartikan “Pangeran” dengan
“kirata basa”. Katanya pangeran
berasal dari kata “pangengeran”,
yang artinya “tempat bernaung atau
berlindung”, yang di Bali disebut
“sweca”. Sedang wujudNYA tak
tergambarkan, karena pikiran tak
mampu mencapaiNYA dan kata kata
tak dapat menerangkanNYA.
Didefinisikan pun tidak mungkin,
sebab kata-kata hanyalah produk
pikiran hingga tak dapat digunakan
untuk menggambarkan
kebenaranNYA.
Karena itu orang Jawa menyebutnya
“tan kena kinaya ngapa” ( tak dapat
disepertikan). Artinya sama dengan
sebutan “Acintya” dalam ajaran
Hindu. Terhadap Tuhan, manusia
hanya bisa memberikan sebutan
sehubungan dengan perananNYA.
Karena itu kepada NYA diberikan
banyak sebutan, misalnya: Gusti
Kang Karya Jagad (Sang Pembuat
Jagad), Gusti Kang Gawe Urip (Sang
Pembuat Kehidupan), Gusti Kang
Murbeng Dumadi (Penentu nasib
semua mahluk) , Gusti Kang Maha
Agung (Tuhan Yang Maha Besar),
dan lain-lain.Sistem pemberian
banyak nama kepada Tuhan sesuai
perananNYA ini sama seperti dalam
ajaran Hindu. “Ekam Sat Viprah
Bahuda Vadanti” artinya “Tuhan itu
satu tetapi para bijak menyebutNYA
dengan banyak nama”.
Hubungan Tuhan dengan Ciptaannya.
Tentang hubungan Tuhan dengan
ciptaanNYA, orang Jawa menyatakan
bahwa Tuhan menyatu dengan
ciptaanNYA. Persatuan antara Tuhan
dan ciptaannya itu digambarkan
sebagai “curiga manjing warangka,
warangka manjing curiga”, seperti
keris masuk ke dalam sarungnya,
seperti sarung memasuki kerisnya.
Meski ciptaannya selalu berubah
atau “menjadi” (dumadi), Tuhan tidak
terpengaruh oleh perubahan yang
terjadi pada ciptaanNYA.
Dalam kalimat puitis orang Jawa
mengatakan: Pangeran nganakake
geni manggon ing geni nanging ora
kobong dening geni, nganakake
banyu manggon ing banyu ora teles
dening banyu. Artinya, Tuhan
mengadakan api, berada dalam api,
namun tidak terbakar, mencipta air
bertempat di air tetapi tidak basah.
Sama dengan pengertian wyapi,
wyapaka dan nirwikara dalam
agama Hindu. Oleh karena itu Tuhan
pun disimbolkan sebagai bunga
“teratai” atau “sekar tunjung”, yang
tidak pernah basah dan kotor meski
bertempat di air keruh. Ceritera
tentang Bima bertemu dengan
“Hanoman”, kera putih lambang
kesucian batin, dalam usahanya
mencari “tunjung biru” atau “teratai
biru’ adalah sehubungan dengan
pencarian Tuhan. Menyatunya Tuhan
dengan ciptaanNYA secara simbolis
juga dikatakan “kaya kodhok
ngemuli leng, kaya kodhok
kinemulan ing leng”, seperti katak
menyelimuti liangnya dan seperti
katak terselimuti liangnya.
Pengertiannya sama dengan istilah
immanen sekaligus transenden
dalam filsafat modern, yang dalam
Bhagavad Gita dikatakan “DIA ada
padaKU dan AKU ada padaNYA”.
Dengan pengertian demikian maka
jarak antara Tuhan dan ciptaannya
pun menjadi tak terukur lagi.
Tentang hal ini orang Jawa
mengatakan: “adoh tanpa wangenan,
cedhak tanpa senggolan”, artinya
jauh tanpa batas, dekat namun tak
bersentuhan.
Dari keterangan di atas jelaslah
bahwa pada hakekatnya filsafat
Jawa adalah Hinduisme, yang
monotheisme pantheistis. Karena itu
pengertian Brahman Atman Aikyam,
atau Tuhan dan Atman Tunggal, juga
dinyatakan dengan kata-kata “Gusti
lan kawula iku tunggal”. Di sini
pengertian Gusti adalah Tuhan yang
juga disebut Ingsun, sedang Kawula
adalah Atman yang juga disebut Sira,
hingga kalimat “Tat Twam Asi” pun
secara tepat dijawakan dengan kata
kata “Sira Iku Ingsun” atau “Engkau
adalah Aku”, yang artinya sama
dengan kata-kata “Atman itu
Brahman”.
Pemahaman yang demikian itu
tentunya memungkinkan terjadinya
salah tafsir, karena menganggap
manusia itu sama dengan Tuhan.
Untuk menghindari pendapat yang
demikian, orang Jawa dengan bijak
menepis dengan kata-kata “ya ngono
ning ora ngono”, yang artinya “ya
begitu tetapi tidak seperti itu”.
Mungkin sikap demikian inilah yang
menyebabkan sesekali muncul
anggapan bahwa pada dasarnya
orang Jawa penganut pantheisme
yang polytheistis, sebab pengertian
keberadaan Tuhan yang menyatu
dengan ciptaannya ditafsirkan
sebagai Tuhan berada di apa saja
dan siapa saja, hingga apa saja dan
siapa saja bisa diTuhankan.
Anggapan demikian tentulah salah,
sebab Brahman bukan Atman dan
Gusti bukan Kawula walau
keberadaan keduanya selalu
menyatu. Brahman adalah sumber
energi, sedang Atman cahayanya.
Kesatuan antara Krisna dan Arjuna
oleh para dalang wayang sering
digambarkan seperti “api dan
cahayanya”, yang dalam bahasa
Jawa “kaya geni lan urube”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar